Nyadranan Yogyakarta

Nyadranan Yogyakarta

Upacara Nyadran di Yogyakarta, kegiatan tahunan yang diberi nama nyadran atau sadranan adalah ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Sadranan atau Nyadran di Yogyakarta ini dilakukan dengan maksud menziarahi makam para leluhur. Ritus ini adalah dipahami sebagai pelestarian warisan tradisi dan budaya nenek moyang. Nyadran di Yogyakarta biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya'ban atau Ruwah.

Nyadran di Yogyakarta dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang mempunyai kesamaan dalam ritus dan objeknya. Bedanya hanya terletak pada pelaksanaannya, yaitu nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama.

Tradisi Nyadran di Yogyakarta merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran di Yogyakarta merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.

Budaya masyarakat ini sudah melekat erat menjadikan masyarakat Yogyakarta sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam yang dilunya dimotori oleh para Wali Songo.

Upacara Nyadran di Yogyakarta biasanya dimulai dengan membuat kue apem, ketan, dan kolak. Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi (biting). Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Ini adalah sebenarnya inti atau pelajaran yang bisa diambil dari upacara Sadranan ini, yaitu semangat kebersamaan dalam kultur masyarakat Yogyakarta.


5 responses to “Nyadranan Yogyakarta”
  1. om rame says:

    budaya-budaya seperti ini harus di jaga peLetariannya, saLah satu tujuannya untuk mempertahankan semangat kebersamaan tanpa ada batasan status sosiaL.

    terima kasih sudah bersedia memasang Link bLog saya, begitupun sebaLiknya sudah saya Lakukan atas nama "Yogyakarta Rawuh Mriki". biLa ingin merumah nama adminnya mohon dikonfirmasikan.

  2. Unknown says:

    Nyadranan sebuah ritual adat Jawa bernuansa Islami yang telah berlangsung ratusan tahun. Kami amat tertarik dengan ubo rampenya seperti kue apem, ketan dan kolak disamping takir dan lidi. Tentunya semuanya itu mengandung makna filosofi sebagai sebuah pesan bagi kita. Kita yang hidup tetap mendoakan para arwah leluhur yang telah mendahului kita meninggalkan alam fana ini. Trims sharingnya. Salam sukses selalu.

    Link 'YogyakartaRawuhMriki' telah kami pasang. Terima kasih atas jalinan persaudaraan yang erat ini.

  3. wah salut saya, adat istiadatnya sangat kental.

  4. harto says:

    memang budaya2 seperti inilah yang harus dilestarikan sampai kapanpun, jangan sampai tergilas oleh perubahan zaman yang ada. hampir di setiap daerah rasanya banyak budaya untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan.

    sebentar lagi Ramadhan datang niiih...
    Mari kita sambut Ramadhan dengan iman. Kita genggam tarawih dengan gigih. Kita peluk tadarus dengan tulus. Kita belai sahur dengan Syukur. Kita sayangi puasa dengan banyak Do’a dengan sepenuh hati dan jiwa raga, semoga Istiqomah. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM MOHON MA’AF LAHIR dan BATHIN

  5. wah, jogja yo ono nyadran ternyata.... tapi beda karo nenggonku gan bentuk2 ritual acarane.. hhe...... sugeng dalu....... :D
    ws tak follow back...... :)

Leave a Reply